Paroki Santa Maria, Ratu Rosari, Gianyar , Kutemukan Sosok Allah Bapa
Sabtu, 6 Desember 2025 – Sore di Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar
Sore itu aku meniatkan diri untuk mengikuti Misa Sabtu di Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar. Sudah lama aku ingin kembali. Ingatanku langsung terlempar pada tahun 2020, ketika aku pertama kali berkunjung ke Ubud. Aku menyetir motor dari Lod Tunduh sambil mencari gereja, nyasar, dan akhirnya hanya sempat mengikuti Misa sekejap. Mungkin memang Tuhan belum ingin aku tinggal lama kala itu.
Kali ini, jadwal jelas: Misa dimulai pukul 18.30 WITA.
Aku berangkat dari Kuta pukul 17.30, sedikit terburu karena terlambat makan. Aku memutuskan memesan Grab Bike dengan tujuan Sanur, rencananya dari Sanur lanjut mobil. Namun, melihat lalu lintas di area Sanur yang padat, aku kembali memesan motor.
Driver yang menjemput berasal dari Kupang. Saat mengetahui aku hendak ke gereja, ia tersenyum dan berkata,
“Ya sudah, saya sekalian ikut Misa, Bu. Tuhan lihat hati, bukan pakaian yang dikenakan.”
Aku hanya tersenyum dalam hati. Rasanya hangat—perjalanan yang jauh, macet, dan terburu-buru, tetapi Tuhan masih peduli menghadirkan seseorang seiman untuk menenangkan langkahku. Sudah beberapa kali aku alami hal serupa: ketika aku hendak ke gereja, Tuhan mengirimkan driver Katolik. Seolah ingin berkata, “Aku menyertaimu di jalan.”
Aku tiba sekitar 15 menit terlambat, lalu memilih duduk di lantai dua.
Di titik itu rasa syukur tiba-tiba memenuhi dada. Pandanganku tertuju pada sosok agung di depan altar—sosok yang selama ini selalu kubayangkan sebagai gambaran Bapa di Surga: lembut, penuh wibawa, melindungi, seperti Abraham dalam imanku selama bertahun-tahun.
Aku menyadari, setelah begitu banyak membaca Kitab Suci, mengikuti Misa, berdoa, dan berziarah batin—aku belum pernah sungguh menemukan representasi “Allah Bapa” dalam rupa visual. Namun, di Gereja ini, dalam keheningan lantai dua, aku merasakannya.
Dan memang betul Sosok tersebut adalah representasi simbolis Allah Bapa dalam seni gereja.
Bukan gambaran fisik literal, tetapi ikon teologis untuk membantu umat merenungkan kasih dan kebapaan Allah.
Seni gereja menggunakan bentuk visual agar misteri iman dapat dirasa, dilihat, dan dihayati, terutama dalam liturgi Ekaristi.
Malam itu aku pulang dengan hati penuh syukur, damai, terberkati dan makin menyadari sosok Allah Bapa yang penuh kasih.
Thank youu Lord Father, Son Jesus Christ and Holy Spirit.
Comments
Post a Comment