My Birthday Adventure Lombok Solo Traveling

Perjalanan kali ini kembali memilih solo alone karena semuanya serba dadakan. Beresin kerja dulu baru berangkat. Semula tujuannya ke Tabanan, tapi karena mempertimbangkan kemacetan Bali akhirnya aku spontan klik tiket ke Lombok.
Flight jam 4 sore, jadi selesai kerja langsung ke airport.

Sejak di airport rasanya perjalanan sudah mulai mempertemukan aku dengan banyak orang. Saat antre check-in, ada sepasang suami istri yang baru pertama kali ke Lombok dan bingung proses check-in, jadi aku bantu mereka sampai selesai. 

Saat menunggu boarding, ada lagi seorang ibu dan anak yang menyapa karena mengira aku orang Jepang. Kami pun ngobrol dan berkenalan.


Flight hanya sekitar 50 menit dan berjalan lancar. Aku menikmati nasi kuning di pesawat, lalu tak lama kemudian sudah tiba di Lombok.

Sampai di Bandara Praya, karena udara adem aku berpikir bisa jalan keluar area bandara lalu order Grab seperti di Bali. Ternyata beda cerita.

Untungnya ada seorang bapak yang bekerja di bandara membantu dan menyuruh aku ikut saja. 


Dia bahkan mencarikan teman untuk mengantar naik motor sampai keluar area bandara.

Wah, dari sini aku mulai merasa, seolah semuanya sudah diatur.

Aku diantar sampai depan minimart dan dari sana baru order Grab Bike. Ternyata drivernya karyawan Pepito yang berasal dari Lembang, Bandung. Kami langsung happy ngobrol karena sama-sama dari Jawa Barat. Dia juga yang merekomendasikan tempat makan dan mall di Mataram.
Perjalanan Praya–Mataram lumayan jauh, tapi sore itu udara adem dan aku malah menikmati perjalanan dari atas motor sambil melihat-lihat pemandangan.
Sampai Hotel Lombok Garden, istirahat sebentar, mandi, lalu otw Epicentrum Mall.
 Ternyata naik Grab Car di Lombok juga tidak mahal. Aku sempat melihat counter Uniqlo dengan wall bernuansa Lombok yang unik. 
Di lantai atas ternyata sedang ada Nagita Slavina bersama kedua anaknya, jadi mall penuh sekali.
Tidak berlama-lama, beli dua pcs J.CO lalu lanjut dinner ke Ayam Taliwang Pak Udin.
Aku awalnya mau duduk di lantai dua, tapi stafnya bilang, “Ibu di sini saja, kalau mau nambah gampang.”
Dan ternyata benar, aku nambah! Ayam pertama versi bakar, lalu pesan lagi versi goreng. Mantap, memang nikmat bumbu dan sambalnya.

Setelah makan aku ingin ke gereja. Meskipun di Google Maps tertulis sudah tutup, beruntung ada local guide yang share foto jadwal dan ternyata tertera Adorasi Abadi 24 jam.

Aku pun menuju Gereja St. Maria Immaculata Mataram.

Bapak satpam asal Flores menyambut dengan ramah dan mengantarku ke ruang adorasi. Dia juga memberi tahu bahwa pintu samping gereja masih terbuka kalau aku ingin memasang lilin di Bunda Maria.

Masuk ruang adorasi memang selalu memberikan rasa damai.
Aku berdoa dan berkomunikasi dengan Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus. Tidak banyak yang ingin kuminta. Terima kasih dan bersyukur, itu yang paling ingin kuucapkan.
Aku juga semakin belajar untuk mendoakan orang lain, bukan hanya kepentinganku sendiri. Malam itu aku memasang tiga lilin di Bunda Maria dan menitipkan doa-doaku dalam hati.
Sahabat dekatku Regina juga sudah mengirimkan ucapan ulang tahun dari jauh. Aku makin menyadari bahwa Tuhan memberikan banyak sahabat dan orang-orang yang menyayangiku.

Dan meskipun aku berangkat sendiri, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar sepi. Ada sahabatku, Phasy, yang terus memantau kabarku, menanyakan aku sudah sampai di mana dan memastikan perjalananku baik-baik saja.

Jam 11 malam kembali ke hotel dan langsung istirahat. Jam 5 pagi sudah bangun, jam 6.30 breakfast dan jam 7 sudah check-out.

Nah, pagi itu aku justru belum tahu mau bagaimana.

Mau memperpanjang di Lombok atau pulang ke Bali? Tiket pesawat hari Minggu dengan harga normal sekitar Rp750 ribu sudah habis dan penerbangan murah berikutnya baru ada Selasa pagi.

Tapi dalam pikiranku sederhana saja:

Ke gereja dulu. Tuhan pasti atur dengan baik.

Mau ke gereja pun ada ceritanya. Grab Car lama, ganti order Grab Bike ternyata sama lamanya. Pedagang asongan mulai menawarkan mutiara dan oleh-oleh. Saat kubilang mau ke gereja, mereka menunjuk sebuah gereja yang katanya dekat dan bisa jalan kaki.

Aku pun membatalkan Grab dan jalan.

Eh, ternyata bukan gereja Katolik. 😄

Order Grab Bike lagi dan lucunya yang menerima justru driver yang tadi sempat aku batalkan.

Puji syukur, Misa mulai jam 7.30 dan aku tiba tepat jam 7.29.

Sebelum masuk gereja aku sempat ngobrol dengan drivernya. Namanya Dik Arya. Dia pernah tinggal di Bali waktu kecil dan ternyata tahu cara pulang ke Bali melalui Pelabuhan Lembar.

Aku langsung minta save nomornya supaya setelah Misa dia bisa antar aku ke pelabuhan.

Misa selesai sekitar jam 9.15. Aku sempat berfoto dengan romo

masuk ruang adorasi sekali lagi, lalu menghubungi Dik Arya 
Tapi sebelum ke pelabuhan aku bilang, “Antar dulu dong lihat Senggigi.”

Jadilah kami naik motor melewati Kota Tua Ampenan,
 lanjut Senggigi , foto perbatasan wilayah 
dan sempat foto di Batu Layar. 
Tidak lama-lama, yang penting aku sudah lihat, “Oh, begini toh pantai Lombok.”
Kami mampir sebentar beli oleh-oleh di Sasaku, 

Aku minta melewati tugu kota Mataram 
kemudian lanjut ke Pelabuhan Lembar.
Tiket ferry sekitar Rp75 ribu. Aku tiba jam 11.15 untuk kapal jadwal 11.30, walaupun akhirnya baru berangkat sekitar jam 12.

Di kapal ekonomi banyak yang menawarkan tikar untuk tidur dan kamar untuk istirahat. Kamar pertama kurang cocok. Kamar kedua lumayan, tapi ditawarkan Rp250 ribu.

Aku bilang, “Rp150 ribu.”

Tidak dikasih.

Ya sudah, aku duduk saja di ruang tunggu. Baru sekitar tujuh menit, bapaknya datang lagi.

“Rp150 ribu boleh.”

Deal. 😄

Akhirnya perjalanan laut bisa kulewati dengan nyaman. Aku istirahat, belajar Mandarin, mencoba nonton walaupun sinyal susah, dan sempat ke kantin beli Indomie goreng.

Sekitar jam 16.20, sambil masih berada di atas ferry, aku mulai menulis cerita perjalanan ini.

Tapi ternyata petualangannya belum selesai.

Di kapal aku memberanikan diri menyapa seorang perempuan bule dan menawarkan sharing car dari Padang Bai ke Kuta.

Namanya Miss Inggrid, dan ternyata dia setuju.

Saat ferry berlabuh aku mulai mencarinya lewat WhatsApp.


 Akhirnya kami bertemu. Inggrid bersama pasangannya, Jedar, pasangan dari Spain. Mereka sudah bertemu Pak Gustu, driver asli Padang Bai yang bisa mengantar kami menuju Kuta.

Harga yang diminta kurang lebih mengikuti tarif aplikasi Grab sekitar Rp700 ribuan. Karena sharing, akhirnya kami sepakat total Rp800 ribu.

Jadilah kami pulang bersama: aku, Inggrid, Jedar dan Pak Gustu.

Perjalanannya menyenangkan. Kami ngobrol, berbagi makanan ringan, mendengarkan musik, sempat berfoto bersama dan saling menyimpan nomor kontak. Macet pun jadi tidak begitu terasa.

Akhirnya kami tiba dengan selamat di tujuan.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan ulang tahun ini hampir semuanya serba dadakan. Tidak ada itinerary yang benar-benar direncanakan, tapi satu per satu selalu ada jalan dan selalu ada orang baik yang kutemui.

Dan meskipun aku berangkat sendiri, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar sepi. Ada sahabatku, Phasy, yang terus memantau kabarku, menanyakan aku sudah sampai di mana dan memastikan perjalananku baik-baik saja.

Aku semakin menyadari bahwa solo traveling ternyata tidak selalu berarti sendirian.

Kadang kita hanya perlu berjalan, berdoa, percaya dan bersyukur.

Terima kasih Tuhan untuk perlindungan dan berkat sepanjang perjalanan ulang tahunku, sampai akhirnya kembali pulang dengan selamat.

My Birthday Adventure — solo alone, but never really alone. Terima Kasih 😘💕 Tuhan Yesus 

Comments

Popular posts from this blog

Doa Legio Maria, Doa Tessera, Doa Catena Legionis, Doa Untuk Memohon Beatifikasi Hamba Allah Frank Duff

" Makna Imlek & Leluhur Kita"

Easter 2026 Amed Short Escape 5 April 2026