Chinese New Year Kuala Lumpur Trip Februari 2026
Perjalanan dimulai dengan flight Batik Air dari Denpasar ke Kuala Lumpur yang sempat delay. Namun justru itu menjadi berkat—hujan di Bali sudah berhenti. Terima kasih Tuhan. Sejak awal, perjalanan ini terasa dipermudah.
Dari bandara kami naik Grab menuju Hotel Big M, lalu langsung mulai belajar menggunakan MRT. Malam pertama kami menuju Pavilion Kuala Lumpur dan area Bukit Bintang. Kami takjub dan senang melihat dekorasi Imlek yang indah dan keramaian wisatawan yang berfoto di area air mancur
. Kami makan di Food Republic dan mencoba mie tarek Zang Lala
Saat pulang, kami sempat salah memilih platform MRT—nyasar sedikit, tetapi justru menjadi pengalaman lucu pertama kami dengan sistem transportasi Kuala Lumpur yang modern dan tertata.
Hari kedua, rencana awal adalah berjalan kaki ke Petaling Street. Namun kami malah “tersesat” ke St. John's Cathedral di Bukit Nanas.
Saya masuk dan berdoa sejenak. Saat membaca Injil dengan pesan bahwa kesusahan sehari cukup untuk sehari, saya merasa diingatkan untuk percaya dan tidak hidup dalam kekhawatiran.
Matius 6:34 TB
[34] Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
https://bible.com/bible/306/mat.6.34.TB
Itu menjadi momen rohani yang sangat pribadi dan menguatkan.
Setelah itu kami lanjut MRT menuju Chinatown Kuala Lumpur.
Lanjut makan siang imlek yang sederhana di food court namun suasana Imlek sangat berasa karena banyaknya wisatawan China.
Suasana Imlek sangat meriah—petasan panjang, barongsai, dan lautan manusia memenuhi jalan. Energinya terasa hidup dan penuh sukacita.
Siangnya kami menuju Suria KLCC dan melihat langsung Menara Petronas yang megah.
lalu lanjut ke The Exchange TRX. Di sana kami foto di rooftop, mengunjungi Apple Store yang tampil sebagai flagship store futuristik dengan desain minimalis ikonik dan suasana elegan.
Akhinya kami juga mencoba nasi lemak di Madam Kwan, dan berbagai masakan khas Malaysia
Sempat coba es bar rasa tofu
dan mengunjungi store terbesar CHAGEE dengan interior artistik, lukisan dinding kolaborasi seniman,
serta konsep modern yang memberikan pengalaman minum teh premium yang unik dan berkelas.
Pagi berikutnya kami sarapan di McDonald’s, lalu menuju Terminal Bersepadu Selatan. Karena antrean panjang akibat libur Imlek, kami batal naik bus.
Sebagai gantinya, kami menjelajah Kwai Chai Hong di Lorong Petaling—tempat dengan mural artistik dan banyak spot foto menarik.
Sore harinya, saya kembali ke St. John's Cathedral untuk mengikuti misa Rabu Abu. Ada kebutuhan untuk silent reflection, seolah Tuhan kembali mengingatkan untuk hadir dan percaya. Saya bersyukur bisa mengalami Rabu Abu 2026 secara istimewa di Kuala Lumpur.
Saya sadar, tersesat sehari sebelumnya bukan kebetulan. Dan batal berangkat ke Melaka pagi itu juga bukan kebetulan. Semua seperti sudah diatur dengan indah.
Malamnya kami makan roti naan hangat di restoran Chayas dekat hotel.
Keesokan paginya, kami dijemput Bang Alung untuk perjalanan pulang-pergi ke Melaka. Perjalanan ini penuh nilai sejarah. Kami naik ke St. Paul’s Hill, mengunjungi Istana Kesultanan Melaka, makan chicken rice ball di Jonker Street, dan melihat Christ Church Melaka yang ikonik.
Kembali ke Kuala Lumpur, kami mampir ke Bangunan Sultan Abdul Samad di area Masjid Jamek—bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial yang indah.
Kami juga mengunjungi Genting Highlands, naik cable car melewati pegunungan dan turun di temple di tengah angin yang kencang
Setelah itu kami bersantai di waterfront Desa Park City, membeli Mon Chinese Beef Roti di Sogo, dan menikmati cendol Nyonya yang segar.
Malam terakhir kami habiskan di Jalan Alor, menikmati char kway teow yang autentik, lalu berjalan santai kembali di Bukit Bintang dan mengunjungi KKV.
Pagi hari terakhir sebelum pulang, kami mengunjungi Mitsui Outlet Park KLIA,
Puji syukur menikmati Premium Lounge G2 KLIA, free dan kembali ke Indonesia dengan Malaysia Airlines.
Yang paling berkesan dari perjalanan ini adalah belajar menggunakan MRT dan melihat kehidupan kota yang sangat modern—di mana semuanya serba mandiri, pesan dan bayar menggunakan mesin. Cepat, efisien, dan tertata.
Trip ini bukan hanya perjalanan wisata.
Ini adalah perjalanan pengalaman, iman, dan pembelajaran—bahwa sering kali hal-hal terbaik terjadi bukan karena direncanakan, tetapi karena sudah diatur dengan indah.
Tahun lalu sempat berencana ke Melaka, dan akhirnya baru terwujud di Februari 2026 ini, ditemani teman seperjalanan Aay yang selalu siap dan setia menemani setiap langkah.
Terima kasih Tuhan yang selalu baik.
Terima kasih untuk Aay, dan Bang Alung, sopir langganan di Kuala Lumpur yang banyak membantu perjalanan kami.
Perjalanan ini akan selalu menjadi kenangan yang hidup—bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang iman yang diteguhkan, hati yang dikuatkan, dan pengalaman yang memperkaya jiwa.
Seperti biasa belanja cemilan oleh oleh Malaysia dan Melaka
Comments
Post a Comment