Perjalanan Melayat Sukmeh Tercinta 29/1-1/2/2026
🤍
Catatan Perjalanan
Perjalanan ini dimulai dengan lelah, bahkan sebelum benar-benar sampai tujuan. Dari Bali ke Halim, pesawat terlambat, tapi hidup tetap berjalan. Dari Halim aku melanjutkan dengan Grab ke stasiun KCIC whossh , lalu naik kereta cepat Indonesia–China menuju Padalarang. Tiga puluh menit. Terlalu cepat sampai rasanya seperti waktu dipercepat oleh Tuhan sendiri. Ironisnya, justru kereta feeder ke Kebon Kawung yang terasa lambat. Sembilan belas menit yang panjang, seolah mengingatkanku bahwa tidak semua bagian hidup harus cepat.
Sampai di Kebon Kawung, Puji Tuhan, aku berada di sekitar Paskal Hyper Square. Menggeret koper, naik angkot jurusan Stasiun–Lembang, lalu bertemu di Paskal. Dari sana kami langsung menuju Bumi Baru, ruang A, untuk melayat. Aku ada di rumah duka dari sore sampai malam. Banyak yang menawarkan tempat menginap, bahkan bosku sendiri memintaku tinggal di rumahnya. Tapi aku menolak. Aku bilang masih ada janji dengan teman, padahal dalam hati aku bertanya pada Tuhan: aku harus menginap di mana?
Jawabannya sederhana tapi tepat. Aku merasa diarahkan untuk menginap dekat gereja, supaya bisa ikut misa pagi. Maka aku menginap di Serela Hotel Jalan Klenteng Bandung. Keputusan kecil itu ternyata membawa banyak kebaikan. Pagi hari aku bisa misa di Gereja Santo Mikael Waringin, berjalan kaki melewati SMA Trinitas. Misa pagi itu aku jalani bersama sahabatku, Ci Natalia. Setelah misa kami duduk bersama, lalu sarapan bertiga di tempat baru bernama Hapsengki, di Jalan Kelenteng. Dimsum dan nasi Hainan dibagi bertiga. Sederhana, hangat, dan cukup.
Waktu tidak memberi banyak ruang. Aku harus bergegas karena ada rencana menjenguk Pakmeh Siulan di Muara—tante yang sudah berusia 90 tahun. Aku sempat membungkus nasi campur Bintang, lalu check-out dan naik Grab. Di Muara, aku menyuapinya, berbincang singkat, dan berdoa bersama. Waktu yang sangat singkat, tapi sangat berharga. Aku sungguh bersyukur masih diberi kesempatan itu.
Tak lama kemudian saya bersama keluarga sepupuku Ci Sienih kembali ke rumah duka untuk kebaktian pelepasan. Sekitar satu jam, lalu kami langsung berangkat ke Tasikmalaya dengan mobil Hiace, mengikuti iring-iringan jenazah. Perjalanan darat terasa jauh lebih melelahkan dibanding kereta atau pesawat. Tubuh lelah, tapi hati harus tetap hadir.
Pemakaman di Picung Remuk berjalan lancar. Kami menunggu pastor dari Geerja Katolik Hati Kudus Yesus beserta umat lingkungan Santa Lucia yang datang terlambat, tapi justru di waktu yang sama kakak perempuan almarhum tiba. Aku belajar lagi: keterlambatan tidak selalu berarti kesalahan; kadang itu penyesuaian. Setelah pemakaman, kami makan bersama secara sederhana di Restoran Mutiara, sesuai adat. Cuci tangan dengan air bunga, lalu makan. Di sana kami juga menemani sepupu yang baru kehilangan ibunya—memberi penghiburan, berbagi, dan saling menguatkan.
Malam itu aku menginap di rumah Koko. Hanya sebentar mandi dan berganti baju karena aku masih harus menemui sahabat lain, Yeva. Setelah itu aku menyempatkan diri mengunjungi Apak, paman yang sudah tua. Aku memang selalu berusaha menemui para elder setiap pulang. Kami berbincang sekitar empat puluh menit. Setelah pamit, aku kembali ke rumah Koko, membeli yamiun asin dan manis di depan rumah. Malamnya aku masih bertemu sahabat lain, Opi , di Soto Ayam Emuh Jl Yudanegara. Grab di Tasik ternyata murah. Kami makan, lalu pulang jalan kaki.
Aku sempat mengecek toko lama—Toko Asia Timur di Jalan HZ Musofa No. 71. Toko itu kosong dan rencananya akan dijual. Aku berfoto, memberi instruksi agar dibersihkan lagi. Melihat yang kotor, refleksku selalu sama: ingin membereskan. Dari sana aku bertemu Mang Maman, tukang gado-gado yang biasa mangkal. Ia bercerita tentang mimpi dua kali—tentang paman dan tante yang datang, tentang menutup toko. Cerita itu membuatku terdiam. Ada perpisahan yang lembut, tapi nnyata
Malam itu aku benar-benar istirahat. Koko mengosongkan satu kamar untukku, bahkan anaknya disuruh pindah. AC disetel, tempat tidur disiapkan. Perhatian kecil yang terasa besar. Pagi hari berikutnya, Tuhan kembali mengatur. Aku bisa ke Bandung bersama Opi dan Lisye karena Opi harus rapat di Gedung Pastoral Keuskupan Bandung. Selama ia rapat, aku diberi mobil dan sopir untuk keperluanku. Tujuanku jelas: menengok para elder.
Aku pergi ke Pondok Hijau menemui Kukuh Alin, tante tertua di Bandung. Aku membawa oleh-oleh, mampir dulu membeli Gula Semut. Di Pondok Hijau, aku melihat kenyataan usia tua dengan jelas: tubuh melemah, mata ingin terpejam, kaki sakit, badan kurus. Aku memijat kakinya, berdoa bersamanya. Ia hanya berkata ingin menutup mata. Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Banyak orang tua kehilangan semangat hidup, bukan karena iman, tapi karena merasa “sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan”. Ini jadi renunganku sendiri: betapa pentingnya tetap bergerak, tetap punya harapan, bahkan di usia senja.
Dari sana aku menuju Kembar Indah, menemui tante lain yaitu ii dede , adik mama. Usianya tujuh puluhan, tapi masih aktif—pingpong, bergerak, tertawa. Kontras yang jelas. Aku belajar lagi bahwa usia bukan soal angka, tapi soal bagaimana hidup dijalani.
Siang hari kami makan di Babi Yuk jalan Astina No 5 Bandung yang viral. Lalu rencana pulang berubah-ubah. Akhirnya aku memilih naik travel Jekal Holiday. Bandung macet, badan lelah, masuk angin, dada tidak enak. Aku menyerah dan tidur di mobil travel yang dingin. Supir menurunkanku di depan hotel Treepark Hotel Airport —nama baru dari Pop Hotel. Rebranding, seperti hidup juga sering melakukan hal yang sama: berganti nama, berganti fase.
Malam itu aku mandi air panas, lalu tidur. Pagi hari masih tidak enak badan, tapi aku bangun. Sarapan box, lalu tahu ada shuttle gratis ke bandara. Jam sebelas aku bersiap ke Terminal 2. Penerbangan jam dua kembali ke Bali. Aku membawa sedikit oleh-oleh untuk anak-anak di hotel, dan setumpuk pekerjaan yang sudah menunggu: budget, operasional, tanggung jawab.
Di tengah semua kelelahan ini, satu hal terasa jelas: Tuhan selalu mendampingi.
Kita bisa merencanakan, tapi tidak pernah bisa menyusun hidup sebaik rancangan-Nya. Aku hanya perlu bilang dulu pada Tuhan, dan sisanya akan dilancarkan—dengan cara-Nya sendiri.
Terima kasih Tuhan Yesus.
Terima kasih Bapa Surgawi.
Terima kasih untuk Yesus sang Sahabat, Guru, dan Roh Kudus yang menghibur.
Semua baik.
Minggu 1/2/2026
Room 132
Treepark Airport hotel
Comments
Post a Comment